RSS

Membedakan Skizofrenia dan Okultisme

22 Jan

Banyak orang tidak tahu mengenai skizofrenia dan okultisme, banyak juga yang mempunyai pandangan salah mengenai keduanya, serta suatu kasus pribadi menyebabkan saya ingin mengulas mengenai kedua hal yang menurut saya sangat perlu untuk diketahui, dipelajari dan dikaji lebih dalam lagi. Berikut beberapa penjelasan yang ingin saya bagikan dari hasil membaca dan mereview sebuah buku Konseling Gangguan Jiwa&Okultisme karangan Julianto Simanjuntak ,yang mengupas mengenai kedua hal tersebut. Selamat menikmati🙂

A. Skizofrenia
Skizofrenia adalah penyakit psikis yang ditemukan Emil Kraeplin sekitar 1 abad yang lalu di mana kepribadian mengalami keretakan, pecah atau bolong sehingga pada alam pikir, perasaan dan perbuatan individu terganggu. Pada orang normal, terdapat kaitan searah antara alam pikiran, perasaan, dan perbuatan, tetapi pada skizofrenik ketiga alam itu terputus, baik satu atau semuanya. Jika pada pendekatan psikoanalisis, digambarkan tanggul daerah ketidaksadaraannya jebol sehingga antara kesadaran, ambang sadar dan ketidaksadaran tidak memiliki batas. Biasanya muncul pertama kali sebelum usia 45 tahun dan berlangsung sedikitnya 6 bulan.
Orang awam menyebut penderita skizofrenik sebagai orang yang “gila”, masyarakat menganggap penderita tidak punya masa depan lagi dan tidak produktif, hal ini menyebabkan perlakuan pemasungan, membiarkan penderita berkeliaran di jalan raya, atau dikurung di kandang hewan. Masyarakat masih memegang mitos bahwa penyakit ini disebabkan kutukan roh atau dewa atau dirasuki roh jahat. Sedangkan menurut para ahli seperti psikolog dan psikiater melalui pendekatan psikologis menyebutkan bahwa gangguan jiwa berasal dari pengaruh sosial, ketidakmampuan individu berelasi dengan lingkungan atau gangguan neurobiologis otak ketidakseimbangan cairan dopamine dan serotonin.
Penyebab skizofrenia sendiri belum diketahui secara pasti, sehingga terdapat banyak konsep tentang faktor penyebabnya, yaitu faktor genetis, faktor non-genetis (faktor lingkungan dan faktor biologis), dan faktor psikososial.
Gejala-gejala yang bisa dideteksi antara lain: mudah curiga, cenderung deprisi, cemas, tegang, gampang marah, cepat tersinggung, perasaan mudah berubah, gangguan makan, sulit tidur, delusi, halusinasi, perasaan datar/tidak sesuai suasana, cenderung pasif (tidak mau peduli, tidak perhatian, tidak mengurus diri sendiri).
Sampai saat ini telah ditemukan beberapa tipe skizofrenia, antara lain:
1. Tipe Hebefrenik
2. Tipe Katatonik
3. Tipe Paranoid
4. Tipe Tak Tergolongkan
5. Tipe Residual
6. Tipe Simpleks
7. Tipe Episode Skizofrenia Akut
Pengobatan skizofrenia memiliki 3 pola utama, yaitu drugs therapy, psychoterapy, dan family and community support programme. Tujuan pengobatan adalah mengembalikan penderita pada komunitas sesegera mungkin. Anjuran penderita boleh opname atau berobat jalan dengan dosis full skizofrenia apabila dengan ciri-ciri berikut: Thought eco, curi pikir, thought insertion, thought broadcasting, waham dikendalikan, suara halusinasi yang berkomentar, delusi yang tidak sesuai dengan budaya, halusinasi yang disertai waham tidak jelas, arus pikiran yang terputus, perilaku katatonik, gejala negatif/ apatis, hilang minat, tak bertujuan dan malas.
Prognosis adalah prediksi kondisi penderita ke depan. Macammya ada 2, prognosis baik atau buruk. Ada beberapa faktor penting yang mempengaruhi buruk tidaknya prognosis:
1. Bila saat pertama kali mengalami usia seseorang sudah termasuk tua, prognosis baik dan sebaliknya buruk.
2. Jika keadaan sosialnya (pekerjaan dan kehidupan seks) sebelum terkena penyakit ini baik maka prognosis akan lebih baik.
3. Status menikah akan lebih baik prognosisnya daripada yang tidak menikah atau status janda/duda.
4. Keadaan ekonomi buruk prognosis buruk.

B. Okultisme
Okultisme sering dikenal dengan istilah kerasukan setan. Kerasukan setan merupakan suatu peristiwa hadirnya roh jahat dalam kehidupan manusia dan dipercaya dapat menyebabkan kepribadian seseorang berubah. Pribadinya menjadi tidak sesuai dengan situasi lingkungan sosialnya. Kerasukan juga dipercaya sebagai suatu peristiwa yang membuat orang sakit secara fisik dan mental. Contohnya makhluk-makhluk gaib yang dikenal di Jawa Tengah: memedi, pisacis, setan gundul, sundel bolong, genderuwo, lelembut, dhanyang. Kerasukan di Jawa Tengah dibagi menjadi kesurupan, kampir-kampiran, kumpel-kumpelan, setanan, kejinan dan kemongmong.
Penyebab kerasukan setan biasanya didasarkan pada pengalaman religius sebagai hukuman dari Tuhan, anggapan karena seseorang atau kelompok berkomunikasi dengan setan dan mempraktikkan ilmu sihir atau memakai jimat.
Ciri-ciri kerasukan setan antara lain, tidak mempunyai kemampuan untuk menjalankan kehidupannya secara normal di tengah-tengah masyarakat, tidak dapat mengontrol diri sehingga membuat kekacauan atau keributan,memiliki kekuatan yang besar sehingga mengganggu lingkungannya, mempunyai masalah yang besar dalam kepribadian dan tingkah lakunya, suka menyiksa tubuhnya sendiri, berteriak/menjerit/melonglong, tidak mengenal identitas dirinya dengan benar, memerlukan eksorsisme,di tengah-tengah proses penyembuhan terjadi pemindahan okultis.
Eksorsisme atau pelayanan pelepasan adalah pengusiran keluar roh-roh jahat dalam diri seseorang, dari suatu tempat, atau dari suatu barang ke tempat lain. Pada perkembangan pemakaian metode ini, selanjutnya digunakan istilah pelayanan pelepasan (deliverance ministry), penolong tidak hanya melakukan pengusiran setan tetapi juga berusaha membuat analisis kehidupan konseli (riwayat hidupnya). Melalui proses penyelidikan, doa pemutusan/penyangkalan, pembimbingan, dan aktivitas kerohanian/persekutuan.

C. Membedakan Skizofrenia dan Okultisme
Membedakan antara skizofrenia dan okultisme bagi sebagian orang tidaklah mudah. Sebagian orang tidak mempercayai fenomena kerasukan setan. Di sisi lain, ada yang terlalu menekankan kerasukan setan sehingga mengabaikan unsur gangguan kejiwaan.
Perbedaan Antara Skizofrenia dan Okultisme
Skizofrenia
• Reality testing ability yang terganggu atau rusak
• Intelektualitas menurun
• Tidak punya keinginan kuat untuk menghujat Tuhan
• Cenderung pasif
• Membutuhkan perawatan dan ketergantungan obat psikotik
Okultisme
• Tidak mengenal identitas dirinya dengan benar (muncul “kepribadian baru”)
• Ada bukti pengetahuan atau intelektualitas baru yang sebelumnya tidak dimiliki
• Punya keinginan kuat untuk menghujat Tuhan
• Memiliki kekuatan yang besar sehingga mampu memutuskan rantai atau pengikat
• Biasanya langsung sembuh/normal setelah setan diusir dari dalam dirinya

Di samping itu juga ada kerasukan setan yang mirip dengan skizofrenia, khususnya skizofrenia katatonik. Ciri-cirinya, ada keinginan kuat ingin bunuh diri, menyiksa diri sendiri, ada waham delusi, halusinasi, bicara terdisorganisasi, pendataran afektif, tidak ada kemauan, disfungsi sosial, kehilangan energi dan motivasi, merasa asing di lingkungannya sendiri.

Sumber:
Simanjuntak, Julianto.2008. Konseling Gangguan Jiwa&Okultisme (Membedakan Gangguan Jiwa dan Kerasukan Setan). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 22, 2010 in psychology

 

One response to “Membedakan Skizofrenia dan Okultisme

  1. kuliahbandoro

    Januari 22, 2010 at 7:03 am

    ouwoooohhhhh

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: