RSS

Gangguan Narsistik

04 Mei

Pernah nggak ngobrol ma temen, “ih, anak tu narsis banget!” karna kamu liat orang lewat yang banyak aksi atau bilang ke temen kamu yang bentar-bentar ngaca, “ckckck, kamu ternyata narsis juga ya.” Atau malah banyak temen kamu yang bilang ma kamu, “widih, kamu kok narsis banget yak!” karna kamu hobi banget memotret diri sendiri dengan berlebihan. Lalu apanya yang salah ya..ayo kita simak yang berikut.

Gangguan mental adalah gangguan yang menghalangi individu untuk hidup sehat seperti yang diinginkan oleh individu yang bersangkutan maupun oleh orang lain. Gangguan mental ada 2 jenis yaitu neurotic dan psikotic, sedangkan tingkatannya ada 3 yaitu gangguan ringan, sedang dan berat.

Gangguan narsistik merupakan gangguan kepribadian yang bersifat neurotic yang mungkin tidak disadari oleh penderitanya. Menurut J.P. Chaplin dalam Kamus Lengkap Psikologi (2006), menyebutkan bahwa Narcissism (narsistik) adalah cinta-diri; perhatian yang sangat berlebihan pada diri sendiri. Pada aliran Psikoanalisis, artinya satu tingkat awal dalam perkembangan manusiawi, dicirikan secara khas dengan perhatian yang sangat ekstrim kepada diri sendiri, dan kurang atau tidak adanya perhatian pada orang lain. Narsisme ini bisa terus-menerus, dan berlanjut sampai memasuki masa kedewasaan sebagai bentuk fiksasi. Masih dalam Kamus Lengkap Psikologi Chaplin (2006), neurotic narsistik dalam pandangan Psikoanalisa merupakan satu neurosa di mana libido mengalami regresi kembali pada fase yang sangat awal (pregenital) dari perkembangan. Dengan demikian individu yang bersangkutan gagal mengembangkan satu kasih sayang pada seorang pribadi lain atau pada satu objek. Fakta yang ada, di Negara-negara Barat, orang yang narsis dianggap mengalami gangguan mental. Karena orang yang menderita narsistik merasa terganggu dengan kenarsisannya tersebut. Berbeda dengan di Indonesia, gangguan ini masih dianggap wajar dan penderita gangguan narsistik tidak merasa bahwa dirinya terganggu. Perbedaan tersebut disebabkan oleh:

1. Perbedaan culture menjadi dasar perspektif yang tidak sama tersebut.

2. Di Indonesia, menggunakan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa III (PPDGJ III) yang mengacu pada Diagnostic Manual of Mental Disorders III (DSM III) sedangkan di Negara-negara Barat sudah menggunakan yang terbaru yaitu DSM IV revised yang memuat tentang gangguan narsistik dan masalah penyimpangan seksual.

Menurut Diagnostic Manual of Mental Disorders IV (DSM IV), kriteria gangguan kepribadian narsistik yaitu pandangan yang dibesar-besarkan mengenai diri pentingnya diri sendiri, arogansi, terfokus pada keberhasilan, kecerdasan, kecantikan diri, kebutuhan ekstrim untuk dipuja, perasaan kuat bahwa berhak mendapatkan segala sesuatu, cenderung memanfaatkan orang lain, iri kepada orang lain. Mau narsis atau enggak, narsis atau bukan, semua kembali pada pandangan masing-masing pribadi, kita bisa belajar bahwa segala sesuatu yang berlebihan juga tidak lebih baik dari sesuatu hal yang kurang, dari semuanya itu kita dapatkan bahwa keseimbangan hidup itu penting..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 4, 2010 in psychology

 

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: